About Me

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Flora dan Fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flora dan Fauna. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 08, 2012

Tumbuhan Eksotik Papua


Cempedak (Artocarpus integer)

Cempedak adalah tanaman buah-buahan dari famili Moraceae. Bentuk buah, rasa dan keharumannya seperti nangka, meski aromanya kerap kali menusuk kuat mirip buah durian.
Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, dan menyebar luas mulai dari wilayah Tenasserim di Burma, Semenanjung Malaysia termasuk Thailand, dan sebagian Kepulauan Nusantara: Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga ke Papua. Juga banyak didapati di Jawa bagian barat.
Artocarpus integer

Dikenal secara luas sebagai cempedak atau campedak, buah ini juga memiliki beberapa nama lokal seperti bangkong (cempedak hutan, bentuk liar di Malaysia), baroh (Kep. Lingga dan Johor), nangka beurit (Sunda), nongko cino (Jawa), tiwadak (Banjar) dan lain-lain.
Pohon yang selalu hijau, sedang besarnya, tingginya dapat mencapai 20 m meski kebanyakan hanya belasan meter. Ranting-ranting dan pucuk dengan rambut halus dan kaku, kecoklatan. Berumah satu (monoecious).
Daun tipis agak kaku seperti kulit, bertangkai, bulat telur terbalik sampai jorong, 2,5-5 × 5-25 cm, bertepi rata (integer, utuh), dengan pangkal berbentuk pasak sampai membulat, dan ujung meruncing (acuminate). Tangkai daun 1-3 cm. Daun penumpu bulat telur memanjang, meruncing, berambut kawat, mudah rontok dan meninggalkan bekas berupa cincin pada ranting.

Perbungaan sendiri-sendiri, muncul di ketiak daun, pada cabang besar atau pada batang utama (cauliflory), pada pucuk pendek khusus yang berdaun. Karangan bunga jantan berbentuk bongkol seperti gada atau gelendong, 1 × 3-5,5 cm, hijau pucat atau kekuningan, bertangkai 3-6 cm. Bongkol bunga betina berbentuk gada memanjang, dengan bunga-bunga yang tertancap sedalam 1,5 mm dalam poros bongkol dan bagian bebas sekitar 3 mm.
Buah semu majemuk (syncarp) berbentuk silinder sampai bulat, 10-15 × 20-35 cm, kehijauan, kekuningan sampai kecoklatan, dengan tonjolan piramidal serupa duri lunak yang rapat atau licin berpetak-petak dengan mata faset. 'Daging buah' sesungguhnya adalah perhiasan bunga yang membesar dan menebal, putih kekuningan sampai jingga, manis dan harum, bertekstur lembut, licin berlendir di lidah dan agak berserat. Tidak seperti nangka, keseluruhan massa daging buah beserta bunga-bunga steril atau gagal (dikenal sebagai 'dami') mudah lepas dari poros ('hati') buah semu apabila masak. Biji bulat gepeng atau memanjang, 2-3 cm.

Buah dimakan dalam keadaan segar atau diolah terlebih dulu. Daging buah cempedak, kadang-kadang beserta bijinya sekali, diberi tepung, gula atau garam dan digoreng, dijadikan camilan minum teh atau kopi. Bijinya dapat digoreng, direbus atau dibakar, sebelum dimakan dengan campuran sedikit garam. Buah mudanya, sebagaimana nangka muda, dapat dijadikan sayur.
Kayunya berkualitas baik, kuat dan awet, sehingga kerap digunakan sebagai kayu bangunan, bahan perabotan rumah, atau bahan perahu. Kulit kayunya yang berserat dapat digunakan sebagai bahan tali, dan getahnya untuk memukat burung. Dari kayunya juga dapat dihasilkan bahan pewarna kuning.



Di Kalimantan, cempedak atau bahasa Banjarnya tiwadak, selain dikonsumsi daging buah dan bijinya, kulitnya pun dapat diolah menjadi makanan yang dinamakan mandai atau ada juga yang menyebutnya dami. Mandai dibuat dengan cara mengupas kulit buah sampai terlihat putih kemudian direndam dengan air garam untuk mengawetkan dan melunakkan teksturnya. Rendaman dapat dilakukan selama beberapa jam bahkan hingga sebulan. Mandai biasanya dikonsumsi dengan menggorengnya hingga kecoklatan.
Secara alami, cempedak liar banyak dijumpai di hutan hujan dataran rendah, baik hutan primer maupun sekunder. Tumbuh hingga ketinggian sekitar 1000 m dpl, pohon buah ini menyukai daerah-daerah dengan musim kering yang tidak tegas, lahan dengan permukaan air tanah yang dangkal, dan bahkan tahan sesekali tergenang banjir.
Cempedak biasa ditanam di pekarangan, kebun campuran, sampai ke wanatani kompleks, yang tidak jarang meliar menjadi hutan sekunder. Cempedak juga dapat bersilangan secara alami dengan nangka.

Klasifikasi Ilmiah :
Kerajaan  :  Plantae
Divisi       :  Magnoliophyta
Kelas        :  Magnoliosida
Ordo        :  Urticales
Famili      :  Moraceae
Genus      :  Artocarpus
Spesies    :  Artocarpus integer


Spesies Eksotik





Pengertian Eksotik
Spesies yang diintroduksi dari habitat aslinya ke habitat yang baru di tempat lain sebagai tindakan manusia dinamakan spesies eksotik, spesies asing, atau spesies tidak asli. Kontributor utama terhadap pengurangan dan kepunahan (selain karena hilangnya habitat), adalah introduksi spesies bukan alami pada lingkungan baru. Spesies kadang-kadang menginvasi habitat baru secara alami, tetapi eksplorasi dan kolonisasi manusia secara dramatik meningkatkan penyebaran spesies.  Bilamana manusia bermukim jauh dari tempat tinggalnya, mereka secara sengaja mengintroduksi tanaman dan hewan yang telah dibudidayakannya. Banyak spesies lain secara tidak sengaja terangkut ke seluruh dunia.. 
Banyak tanaman dan binatang, misalnya di Indonesia, merupakan eksotik. Demikian juga hama dan penyakit tanaman banyak yang eksotik.
Eksotime mungkin  merugikan pada flora dan fauna asli. Mereka sering meninggalkan faktor-faktor yang berkembang bersamanya yang mengendalikan populasi dan penyebarannya. Dalam habitat barunya mungkin hanya ada sedikit predator atau penyakit, sehingga populasinya tumbuh tak terkendali. Mereka sering kali dinamakan eksotik invasif. Organisme yang dimangsa mungkin belum mengembangkan mekanisme pertahanan dan spesies asli mungkin tak dapat berkompetisi dengan baik terhadap ruang dan makanan, sehingga terdesak ke kepunahan.

Tanaman Eksotik
Kebanyakan tanaman eksotik yang menimbulkan problem lingkungan sekarang ini adalah diintroduksi secara tidak sengaja, misalnya mendompleng melalui benih tanaman lain yang didatangkan.  Tanaman eksotik yang tidak dikehendaki di bidang pertanian dan kehutanan dinamakan gulma.
Mikania micrantha diintroduksi ke Indonesia sebagai tanaman penutup tanah (cover crop) di perkebunan. Dewasa ini spesies ini telah menjadi gulma yang penting.
Acacia nilotica menjadi tanaman yang sangat agresif perkembangannya di Taman Nasional Baluran sehingga mendesak ruang tumbuh bagi spesies lain; spesies ini diintroduksi pertama kali dari Afrika sebagai tanaman pagar.
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) tumbuh sangat cepat di sungai-sungai dan danau. Spesies ini awalnya diintroduksi sebagai tanaman ornamental.

Hewan Eksotik
Transfer binatang yang paling destruktif dan mahal dari satu negara ke negara lain adalah kelinci ke Australia. Pertama kali diintroduksi oleh seorang tuan tanah kaya, Thomas Austin, yang kangen akan binatang-binatang dari tanah airnya, Inggris. Austin membawa beberapa dosin kelinci tahun 1859 dan melepaskannya di negara bagian Victoria. Kelinci ini beranak pinak, dan menjadi binatang buruan bagi Austin. Enam tahun kemudian ia menaksir telah membunuh 20.000 ekor dan masih ada 10.000 ekor lagi. Kelinci akhirnya menyebar ke seluruh kontinen Australia, perburuan kelinci menjadi populer, daging dan kulit kelinci menjadi komoditi ekspor bagi Australia. Populasi kelinci bertambah cepat karena tidak adanya predator (serigala) seperti di Eropa. Predator yang ada, dingo (sejenis anjing) telah dikendalikan populasinya oleh peternak biri-biri.
Dalam 50 tahun kelinci telah menyebar ke seluruh Australia kecuali di bagian utara yang beriklim tropis, dan populasinya demikian padat sehingga memakan setiap rumput yang ada dan mematikan semak dan pohon dengan memakan kulitnya.  Kelinci juga menginvasi ladang penggembalaan biri-biri menjadi lahan yang tak produktif, menurunkan produksi wol menjadi setengahnya. Akhirnya, kelinci dinyatakan sebagai musuh, yang diburu dan dibunuh. Pemerintah menyediakan hadiah bagi yang mengumpulkan ekor kelinci, dan jutaan ekor telah dikumpulkan.

Manfaat eksotik
Apa yang telah disampaikan di atas adalah beberapa contoh eksotik yang memberikan dampak negatif pada habitat yang baru, terutama bila populasinya tidak terkendali. Tetapi, spesies eksotik juga memberikan manfaat positif yang tidak kalah pentingnya bagi manusia.
Banyak tanaman yang dibudidayakan oleh manusia adalah eksotik.  Di Indonesia tanaman penghasil bahan makanan dan komoditas lainnya kebanyakan adalah eksotik, diantaranya seperti pada tabel sebagai berikut :




Spesies
Asal
Jagung
Meksiko
Ketela pohon
Amerika Tengah
Lombok
Amerika Tengah
Kacang tanah
Amerika Tengah
Kedelai
Mansuria
Karet
Amerika Tengah
Kentang
Amerika Selatan
Tomat
Amerika Selatan
Kakao
Afrika Barat
Kopi
Etiopia
Teh
India, China
Tembakau
Amerika Utara
Sawit
Afrika Barat
Mangga
India
Advokat
Amerika Tengah
Pepaya
Amerika Tengah
Cempedak
Asia Tenggara
Jati
India
Mahoni
Amerika Tengah
Lamtoro
Amerika Tengah
Sonokeling
India
Asam
India

Sabtu, Mei 05, 2012

Tumbuhan Endemik Papua

MAHKOTA DEWA



Mengenal Mahkota Dewa
Tumbuhan Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) dikenal sebagai salah satu tanaman obat di Indonesia, dan merupakan tumbuhan asli Papua.  
Buah Mahkota Dewa memiliki berbagai nama yang berbeda di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa nama tersebut antara lain adalah buah Simalakama (Melayu), Makuta Dewa, Makuto Rojo, Makuto Ratu, Makuto Mewo (Jawa). Buah mahkota dewa menjadi sangat popular karena kemampuanya sebagai tanaman herbal untuk mengobati berbagai macam penyakit.
Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)

 Mahkota Dewa termasuk famili Thymelaece. Batang utama bercabang-cabang setinggi 1,5 - 3 m, daunnya tunggal berbentuk lonjong, berujung lancip. Buahnya bulat, warnanya merah tua jika matang. Tanaman khas Papua ini tumbuh subur pada ketinggian 10 - 1.200m dpl.
Tanaman atau pohon mahkota dewa seringkali ditanam sebagai tanaman peneduh. Ukurannya tidak terlalu besar dengan tinggi mencapai 3 meter, mempunyai buah yang berwarna merah menyala yang tumbuh dari batang utama hingga ke ranting.
Untuk memperpanjang masa simpan buah mahkota dewa, dapat dilakukan pengawetan dengan beberapa cara antara lain pendinginan, pengalengan, dan pengeringan. Pengeringan yang dilakukan pada buah mahkota dewa bertujuan mengurangi kadar air dalam bahan, sehingga air yang tersisa tidak dapat digunakan sebagai media hidup mikroba perusak yang ada di dalam bahan tersebut, dengan kata lain dapat memperpanjang masa simpan buah mahkota dewa tersebut. Kondisi pengeringan yang tepat akan menentukn mutu hasil pengeringan yang tinggi.

Khasiat dan Kandungan
Buah mahkota dewa mengandung beberapa zat aktif seperti : Alkaloid, Saponin, Flavoid, dan Polivenol.
Buah Mahkota Dewa
Alkaloid, senyawa organic berfungsi sebagai detoksifikasi, menetralisir racun-racun di dalam tubuh.
Saponin merupakan fitonutrien, sering disebut “deterjen alam”. Senyawa ini bersifat antibakteri dan antivirus. Juga meningkatkan system kekebalan tubuh, meningkatkan daya tahan, mengurangi kadar gula darah, mengurangi penggumpalan darah.
Flavonoid berindikasi antiperadangan dan mencegah pertumbuhan kanker, sedangkan Polifenol berfungsi sebagai antihistamin. Zat lain adalah tannin, sterol, dan terpen.
Ekstrak daging buahnya berkhasiat sebagai antihistamin, antialergi, bersifat sitotoksik terhadap sel kanker rahim, bersifat hapatoprotektif. Juga menurunkan kadar gula darah, antioksidan, menurunkan kadar asam urat.

Hasil Penelitian
Dra. Lucie Widowati dari Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional-Depertemen Kesehatan. “Saya meneliti mahkota dewa dari tahun 2003,”ujar Lucie. Hasilnya menunjukkan, biji mahkora dewa sangat toksik. Sementara buahnya tidak. Lucie juga menyimpulkan zat dalam buah mahkota dewa meliputi alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, polifenol.
Dalam abstraksi laporannya, Lucie menyebutkan buah mahkota dewa bersifat sitotoksik terhadap sel kanker rahim (sel HeLa) dan sel leukemia. Menurunkan kadar gula darah, menurunkan asam urat. Bersifat antioksidan sebagai scavenger radikal bebas. Juga menurunkan kadar asam urat.
Laporan itu juga mengungkapkan hasil penelitian Vivi Lisdayati dari Departemen Farmasi, Fakultas MIPA UI. “Riset Vivi menyebutkan kalau Mahkota Dewa dapat menghambat pertumbuhan kanker darah putih sebesar 50% pada larva udang.”
Sedangkan Sumastuti dari Fakultas Kedokteran UGM yang melakukan uji bioassay terhadap sel kanker rahim menarik kesimpulan awal. Ekstrak air buah Mahkota Dewa dapat menghambat pertumbuhan sel HeLa (sel kanker rahim) dengan Inhibitory Concentration (IC50) sebesar 196,74 mg/ml pada sel kanker orang.
Uji khasiat mahkota dewa sebagai penurun kadar gula darah, juga dilakukan Lucie. Ia menggunakan ekstrak etanol 70% buah Mahkota Dewa. Hasilnya, pada dosis 110mg/200g bb, kadar gula darah pada tikus bakal menurun.
Untuk melihat pengaruh mahkota dewa terhadap kadar asam urat, Lucie mencatat hasil penelitian Endah Hasturani dari Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma pada 2003. penelitian pada ayam jantan jenis lohman brown umur 2-4 bulan. Hasilnya, perasan daging mahkota dewa punya efek antihiperuresemia, dengan dosis tengah 13,16g/kg bb. Jadi dengan dosis diatas kadar asam urat sudah bisa turun.
Untuk menganalisa khasiat Mahkota Dewa mengatasi eksem, gatal-gatal, penyakit kulit karena alergi, Sumastuti melakukan uji efek antihistamin dengan ekstrak air daun dan buah mahkota dewa. Hewan percobaan dipilih marmot. Hasilnya pemberian 0,5 ml ekstrak dengan konsentrasi 6,25; 12,5; 25; 50; dan 100% dapat mengurangi kontraksi ileum marmot akibat histamine.

Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Plantae; Sub Kingdom : Tracheobionta; Super Divisi : Spermatophyta; Divisi : Magnoliopphyta; Kelas : Magnoliopsida; Sub Kelas : Rosidae; Ordo : Myrtales; Famili : Thymelaeaceae; Genus : Phaleria; Spesies : Phaleria macrocarpa

Jumat, Mei 04, 2012

Tumbuhan Endemik Papua

BUAH MERAH 
"Si Penyembuh Nan Ajaib
 

Buah Merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Oleh masyarakat Wamena, Papua, buah ini disebut kuansu. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam karena tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan, namun tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.
Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Buah Merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan.
Buah Merah (Pandanus conoideus)
 
Bagi masyarakat di Wamena, Buah Merah disajikan untuk makanan pada pesta adat bakar batu. Namun, banyak pula yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, Buah Merah dari zaman dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan, kulit, dan meningkatkan stamina.
Budidaya tanaman dipelopori oleh seorang warga lokal Nicolas Maniagasi sejak tahun 1983, dan atas jerih payahnya tersebut ia mendapatkan penghargaan lingkungan hidup Kehati Award 2002. Buah ini banyak terdapat di Jayapura, Manokwari, Nabire, dan Wamena, serta di wilayah pegunungan tengah Papua.

Buah Merah di Pasar Tradisional Wamena
Adapun penelitian tentang khasiat pengobatan Buah Merah pertama kali dilakukan oleh peneliti dosen Universitas Cendrawasih di Jayapura yaitu Drs. I Made Budi M.S. sebagai ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengonsumsi Buah Merah. Pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina tinggi, padahal hidup sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta kadang-kadang bercuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang yang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker.

Buah Merah Sang Penyembuh Ajaib

 Dengan meneliti kandungan komposisi gizinya, ternyata dalam ujud sari Buah Merah itu banyak mengandung antioksidan (kandungan rata-rata):
  • Karoten (12.000 ppm)
  • Betakaroten (700 ppm)
  • Tokoferol (11.000 ppm)
Di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain: asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9 yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh.
Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit. Suatu kutipan studi membuktikan konsumsi betakaroten 30-60 mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh dapat memperbanyak sel-sel alami pembasmi penyakit. Bertambahnya sel-sel alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker karena ampuh menetralisasikan radikal bebas senyawa karsinogen penyebab kanker.
Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan I Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan Sari Buah Merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam upaya pengobatan yang dilaksanakan terhadap beberapa penyakit.

Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan  : Plantae
Divisi        : Magnoliophyta
Kelas        : Liliopsida
Ordo         : Pandanales
Famili       : Pandanaceae
Genus       : Pandanus
Spesies     : Pandanus conoideus


ANDA TERTARIK UNTUK MENCOBA PENGOBATAN 
DENGAN SARI BUAH MERAH ?
HUBUNGI : +6287777888242

BUKTIKAN KHASIATNYA !!!!!!!